Home / Artikel / Lanting (Bambo Rafting)

Lanting (Bambo Rafting)

Pesona apakah yang dapat dijadikan ikon Kalimantan Selatan, di percaturan parawisata global? Tidak bisa terus berharap pada Pasar Terapung saja. Dari hari ke hari Pasar Terapung semakin tertekan oleh hadirnya pasar-pasar di darat seiring terbukanya akses jalan darat. Tanpa usaha rekayasa, lambat laun, Pasar Terapung akan semakin sepi. Penjualnya berkurang dan pembelinya tidak ada lagi. Pada masa tertentu, tampak, wisatawan lebih banyak daripada penjual/pembeli di Pasar di muara sungai Alalak tersebut.
Pada kondisi demikian, Loksado lah yang menjadi harapan Kalimantan Selatan di tengah percaturan wisata global. Alam dan masyarakat asli menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara. Balai adat (long house) yang berjumlah sekitar 43 buah dapat menjadi point penting tujuan wisata. Perlu diingat bahwa wisatawan mancanegara juga sangat menyukai “berjalan kaki” (hiking) di alam yang masih asli. Beberapa bule yang ke Kalimantan Selatan ternyata mengenal Loksado sebagai surganya hiking.

Belakangan arung jeram dengan lanting (bamboo rafting) juga menjadi primadona wisata di Loksado. Ini mungkin satu-satunya di Indonesia, bahkan di dunia. Sebelum tahun 1990-an, lanting digunakan masyarakat Loksado dan desa sepanjang sungai Amandit untuk mengangkut hasil bumi: karet dan kayu manis ke Kandangan. Tidak hanya mengangkut kayu manis dan karet, lanting yang terbuat dari bambu berkualitas tinggi itupun menjadi komoditas bernilai ekonomi di Kandangan. Tidak mengherankan, pada waktu itu, banyak lanting yang memilir sungai Amandit menuju Kandangan. Lama kelamaan, tempat berkumpulnya lanting tersebut di Kandangan dinamakan kampung “Palantingan”.
Kini balanting menjadi sebuah objek wisata yang cukup memacu adrenalin. Setiap melalui riam (jeram) yang besar lanting akan tenggelam meluncur di dalam air beberapa saat , kemudian kembali ke permukaan. Lanting tidak terbalik, penumpang akan basah tetapi tetap sehat wal afiat. Selain tidak terbalik, bambu lanting digaransi tidak akan lepas bercerai berai, kecuali, tukang tanjak (joki) tidak berpengalaman.
Metode pembuatan lanting diwarisi dari nenek moyang penduduk Loksado sehingga lanting tidak akan hancur meskipun menabrak batu yang besar.
Lanting dibuat dari sekitar tujuh belas batang bambu yang sudah tua. Batang bambu itu disusun dan disatukan dengan sebuah bambu yang lebih kecil sebesar lampu neon. Bambu tersebut dinamakan “panggar”. Pada setiap lanting jumlah panggar berbeda-beda, tergantung panjang lanting. Paling tidak jumlah panggar tiga buah, semakin panjang lanting semakin banyak pula panggar dipasang.
Bambu-bambu itu diikat ke panggar dengan tali yang mereka buat dari kulit bambu muda. Mengikat bambu ke panggar disebut dengan istilah “manyirap”. Proses manyirap merupakan proses penting dalam pembuatan lanting. Ikatan yang tidak kuat akan menyebabkan lanting mudah hancur dan membuat penumpang basah kuyup, bahkan bisa gegar otar karena tercebur kena batu besar. Meskipun, manyirap dilakukan dengan baik dan benar, lanting bisa saja hancur, jika dikemudikan oleh orang yang tidak berpengalaman. Lanting hancur bukan karena ikatannya lepas, tetapi karena tali bambu putus atau panggar lepas akibat terlalu sering menabrak batu besar.
Lanting yang sudah diberi panggar kemudian diberi bangkilas atau pambahuan. Pada tiap sisi, kiri dan kanan, bangkilas terdiri dari dua buah bambu yang tidak jauh berbeda dengan batang bambu yang lain. Pada bagian depan, bangkilas juga diikat (manyirap) pada dua buah panggar. Sementara di bagian belakang tidak perlu diikat pada panggar. Bangkilas pada bagian buritan bisa berayun-ayun karena tidak diikat ke panggar. Bangkilas inilah yang berfungsi menjadi peredam benturan dengan batu sehingga lanting tidak mudah hancur.
Bangkilas kiri dan kanan diikat dengan sebuah tali bambu yang disebut dengan “sumawi”. Sumawi dibuat pada beberapa bagian bisa mencapai empat buah tergantung panjang lanting. Sumawi dibuat agar bambu bangkilas tidak terpisah dari bambu lain yang diikat ke panggar. Dengan metode pembuatan semacam itulah, pada masa lalu, lanting loksado bisa mencapai Banjarmasin melewati banyak cabang sungai.
Mengemudikan lanting tidak dengan pengayuh seperti layaknya perahu karet atau jukung. Mengendalikan lanting cukup dengan sebilah bambu berukuran sekitar dua setengah meter, sebesar genggaman orang dewasa. Alat untuk pengendali itu dinamakan pananjak. Pada kondisi arus sangat deras, pengemudi (joki) dapat terangkat diatas pananjak karena harus merubah arah lanting agar tidak tertabrak batu atau kayu besar. Ahhh…. eksotis.
Perubahan tidak bisa ditahan dihalangi. Pada pertengahan 1990-an, lanting sudah mulai jarang dimilirkan ke Kandangan. Hasil bumi sudah diangkut dengan mobil dan bambu pun sudah bisa diangkut dengan mobil truk. Meskipun demikian, lanting tetaplah menjadi pesona yang terlalu sulit untuk tidak dirasakan. 

About Ahmad Juhaidi

Check Also

Benefit Pendidikan

Pendidikan dalam perspektif ekonomi dipahami sebagai sebuah proses dari membangun human capital. Publikasi lain menyebutkan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UA-82099772-1